BADUNG, radarbalinews.com, 30 Juni 2026 – Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Sinode Harian Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB), Pdt. I Ketut Eddy Cahyana, M.Th., berharap Sidang Sinode ke-50 GKPB tidak hanya menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi gereja, tetapi juga mampu melahirkan mandat yang diwujudkan melalui program-program nyata bagi gereja, masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Harapan tersebut disampaikan Sekum GKPB, Pdt. Eddy, usai mengikuti ibadah pembukaan Sidang Sinode ke-50 GKPB di SMK Wira Harapan, Tegal Jaya, Badung, Selasa (30/6). Menurutnya, seluruh rangkaian persidangan harus dijiwai tema “Menjadi Gereja Pembawa Damai”, sehingga setiap pembahasan dan keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan panggilan gereja untuk menghadirkan damai dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
“Kami berharap Sidang Sinode ke-50 ini dapat berjalan dengan baik dan benar-benar dijiwai oleh semangat pembawa damai. Dengan demikian, kita dapat saling merangkul dan saling menyembuhkan satu dengan yang lain, baik dalam relasi di antara peserta, relasi dengan masyarakat, maupun relasi dengan lingkungan,” ujar Sekum GKPB, Pdt. Eddy.
Sekum GKPB menegaskan bahwa makna gereja pembawa damai tidak hanya diwujudkan melalui hubungan yang harmonis antarsesama, tetapi juga melalui kepedulian terhadap alam ciptaan. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam menjaga kelestarian bumi sebagai bentuk nyata iman kepada Tuhan.

“Kita hidup tidak bisa melepaskan tanggung jawab terhadap lingkungan. Saat ini kita sedang menghadapi persoalan-persoalan lingkungan yang sangat serius. Karena itu, gereja harus terus hadir dan mengambil bagian dalam merawat ciptaan Tuhan melalui tindakan-tindakan nyata,” tegas Sekum GKPB, Pdt. Eddy.
Lebih lanjut, Sekum GKPB mengajak seluruh peserta Sidang Sinode untuk membangun semangat kebersamaan, saling mendengarkan, dan mengedepankan kasih dalam setiap proses persidangan. Dengan semangat tersebut, keputusan yang dihasilkan diharapkan lahir melalui pergumulan bersama demi kemajuan pelayanan GKPB pada masa mendatang.
Ia optimistis Sidang Sinode ke-50 akan menghasilkan berbagai mandat strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program pelayanan yang berdampak langsung bagi jemaat maupun masyarakat luas.
“Kami berharap Sinode ke-50 GKPB menghasilkan mandat-mandat yang dapat diimplementasikan ke dalam program-program nyata. Dengan begitu, hasil persidangan ini tidak hanya menjadi dokumen gerejawi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan yang membawa damai, memperkuat kehidupan bergereja, memberdayakan masyarakat, serta mendorong kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Sekum GKPB, Pdt. Eddy.
Sidang Sinode ke-50 GKPB berlangsung pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026 dengan mengusung tema “Menjadi Gereja Pembawa Damai” dan subtema “Menyatakan Damai Sejahtera Allah dalam Wujud Kasih yang Saling Merangkul dan Menyemaikan di Tengah Kehidupan Bergereja dan Bermasyarakat.”
Forum tertinggi GKPB ini menjadi momentum penting untuk merumuskan arah kebijakan, program pelayanan, serta berbagai keputusan strategis yang akan menjadi pedoman bagi seluruh jemaat dan perangkat pelayanan gereja pada periode mendatang.
Melalui semangat pembawa damai yang diusung dalam Sidang Sinode ke-50, GKPB berharap setiap keputusan yang dihasilkan mampu memperkuat kesaksian gereja di tengah masyarakat, mempererat relasi dengan sesama, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam me
No Comments