Denpasar, radarbalinews.com – Proses latihan Program “Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman; Kolaborasi Seni Antar Umat Beragama untuk Membangun Harmoni Sosial di Bali” resmi dimulai di Sanggar Ganeswara, Banjar Ujung, Denpasar, sebagai persiapan menuju pementasan yang akan digelar pada Minggu, 19 Juli 2026, di Gedung Gereja GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, Dalung, Kuta Utara, pukul 19.00–21.00 Wita.

Program ini merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Ruang Publik yang didukung melalui hibah Dana Indonesiana, yang kini dikenal sebagai Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan. Meskipun menggunakan hibah tahun anggaran 2025, pelaksanaan kegiatan berlangsung pada tahun 2026 sesuai masa kontrak selama sepuluh bulan, mulai November 2025 hingga September 2026.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dr. Sn. I Ketut Ardana, S.Sn., M.Sn., Sanggar Seni Ganeswara, Majelis GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, dan Komunitas Generasi Muda Cinta Seni dan Budaya Nusantara (Genta Nusantara) sebagai upaya membangun harmoni sosial melalui pendekatan seni budaya.
Penggagas sekaligus pencipta karya, Dr. Sn. I Ketut Ardana, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa seni dipilih sebagai media pemersatu karena pada hakikatnya bersifat netral dan mampu menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama dan antargolongan.

“Seni pada dasarnya netral. Yang memberi fungsi adalah penggunanya. Ketika digunakan dalam kegiatan keagamaan Hindu, ia menjadi bagian dari ritual Hindu. Ketika digunakan oleh umat Kristiani, maka ia juga dapat menjadi bagian dari ekspresi keagamaan mereka. Karena itulah seni memiliki kekuatan untuk membangun harmoni sosial,” ujar I Ketut Ardana.
Menurutnya, hingga kini masih banyak masyarakat di luar Bali yang memandang gamelan Bali identik dengan upacara keagamaan Hindu. Melalui program ini, ia ingin menunjukkan bahwa gamelan Bali merupakan warisan budaya yang bersifat universal dan dapat dimainkan maupun dimanfaatkan oleh siapa saja untuk tujuan yang baik.
“Melalui pertunjukan ini kami ingin menunjukkan bahwa gamelan Bali bukan milik satu kelompok atau satu agama. Gamelan Bali adalah milik semua orang. Siapa pun dapat mempelajari, memainkan, dan mendayagunakannya untuk membangun kebersamaan,” tegasnya.
Ia menuturkan, proses latihan membutuhkan waktu yang tidak singkat karena melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama dan komunitas. Setelah diawali dengan workshop, seluruh peserta mengikuti latihan intensif selama satu pekan guna membangun kekompakan musikal sekaligus mempererat kebersamaan antarpeserta.
Dalam pergelaran nanti, penonton akan disuguhkan beragam karya kolaboratif yang memadukan Gamelan Semar Pagulingan dengan berbagai unsur musik lintas budaya dan lintas iman. Sajian pembuka berupa Kolaborasi Lagu-Lagu Keagamaan, yakni medley lagu-lagu rohani dari berbagai umat beragama yang diaransemen secara bersama-sama dalam satu kesatuan musikal dengan iringan Gamelan Semar Pagulingan sebagai simbol persatuan, kebersamaan, dan toleransi.
Selanjutnya akan dipentaskan komposisi Bali Dwipa, karya Dr. Ketut Ardana yang menghadirkan refleksi tentang Bali pada masa lampau. Melalui karya tersebut, penonton diajak membayangkan suasana Bali yang masih hijau, harmonis, serta sarat nilai-nilai budaya dan kehidupan.
Pertunjukan juga menghadirkan Godeg Miring, salah satu gending tradisional Bali yang telah dikenal luas masyarakat. Karya ini ditampilkan untuk menunjukkan bahwa gamelan Bali merupakan warisan budaya yang terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya.
Nuansa kolaborasi semakin terasa melalui komposisi Kipas Menari, sebuah karya yang memadukan vokal, biola, dan Gamelan Semar Pagulingan. Komposisi ini terinspirasi dari gerak ekspresif seorang penari saat memainkan kipas yang diterjemahkan ke dalam bahasa musikal.
Sebagai wujud kerjasama dengan GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal selaku tuan rumah, pertunjukan juga akan menampilkan lagu rohani Kristen Carang Anggur yang diaransemen dengan iringan Gamelan Semar Pagulingan. Penyajian karya tersebut menjadi simbol bahwa musik tradisional Bali mampu menjadi ruang bersama bagi seluruh umat dalam semangat persaudaraan dan toleransi.
I Ketut Ardana berharap pergelaran ini dapat menjadi model kolaborasi seni lintas iman yang menginspirasi masyarakat luas bahwa kebudayaan memiliki kekuatan untuk mempererat hubungan sosial dan membangun kehidupan yang harmonis.
“Harapan kami, masyarakat semakin menyadari bahwa seni memiliki kekuatan besar untuk membangun harmoni sosial. Tidak ada lagi anggapan bahwa seni Bali hanya dimiliki kelompok tertentu. Seni Bali adalah milik semua orang yang ingin memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan yang baik,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi para seniman, komunitas budaya, dan umat lintas agama, kegiatan ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa seni budaya mampu menjadi jembatan persaudaraan sekaligus memperkuat harmoni sosial di Bali.
Red: Irene
No Comments