Lampung, radarbalinews.com — Siapa sangka, kawasan yang 27 tahun lalu masih berupa hutan rimba kini berkembang menjadi perkampungan Hindu Vaisnawa seluas sekitar 60 hektare. Tak hanya memiliki tempat ibadah dan lahan pertanian, Gita Nagari Baru (GNB) kini juga memiliki sekolah TK, SD hingga SMP, termasuk Sekolah Dasar dan SMP Tani yang mengembangkan pendidikan berbasis pertanian.


Perjalanan tersebut ditelusuri Maataji Parvati Devi Dasi, yang di tanah air dikenal sebagai Bunda Parvati, saat menyambangi Perkampungan Gita Nagari Baru. Rasa penasaran membawanya menemui P. Sadbuja Gourangga Das atau Wayan Subur, salah satu sosok yang ikut merintis kampung tersebut sejak awal.

Wayan Subur menuturkan, Gita Nagari Baru mulai dibuka pada 21 Mei 1999. Saat itu kondisinya masih sangat sederhana. Penerangan menggunakan lampu semprong, sedangkan akses jalan masih berupa jalan setapak dan berbatu.

Dari sekitar 60 hektare lahan, 20 hektare dikembangkan menjadi kawasan hunian dan fasilitas komunitas. Di dalamnya terdapat Kuil Sri Sri Radha Madhan Gopal, Padmasari, balai desa, balai kesenian, perpustakaan, klinik, pasar desa, rumah tamu hingga fasilitas pendidikan.
Sementara sekitar 40 hektare lainnya dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Singkong, padi tadah hujan, alpukat, durian, manggis serta berbagai sayuran dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Awalnya sangat sederhana. Penerangan masih menggunakan lampu semprong, jalan masih setapak dan berbatu. Seiring waktu listrik masuk dan jalan mulai diperbaiki serta diaspal,” tutur Wayan Subur.

Menurutnya, GNB sejak awal tidak sekadar dibangun sebagai tempat tinggal. Perkampungan tersebut membawa visi menerapkan Varnasrama Dharma yang bersumber dari ajaran Veda, sekaligus membangun kehidupan yang mandiri melalui spiritualitas, pendidikan dan pertanian.
Keseharian warga juga kental dengan aktivitas spiritual. Pagi diisi Puja Manggala Arati, Nyambut Arca dan Guru Puja, siang Bhoga Arati, sedangkan malam hari Goura Arati. Pembacaan Bhagavad Gita, Srimad Bhagavatam dan Upanisad menjadi bagian dari rutinitas.

Konsep kehidupan mandiri juga diperkuat dengan pelestarian sekitar lima hektare kawasan hutan serta pemeliharaan sapi untuk menghasilkan pupuk organik.
Gita Nagari Baru turut menjaga seni dan tradisi Vaisnawa melalui berbagai kegiatan, termasuk Festival Ratha yang digelar setiap Sabtu dengan mengarak Murti atau Arca menggunakan kereta mengelilingi perkampungan.
Tahun 2026, Sri Krishna Janmastami dirayakan pada 4 September, sedangkan Sri Radhastami pada 19 September. Bagi umat Vaisnawa, kedua momentum tersebut menjadi kesempatan memperdalam bhakti dan refleksi spiritual.
Bagi Bunda Parvati, perjalanan ke Gita Nagari Baru memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas tumbuh dari kesederhanaan. Dari hutan rimba dan jalan setapak, kini berdiri sebuah perkampungan yang memadukan spiritualitas, pendidikan, pertanian, ketahanan pangan, seni budaya dan pelestarian alam.

Gita Nagari Baru pun bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi ruang bagi masyarakat untuk beribadah, belajar, bertani dan membangun kehidupan bersama.
No Comments