Badung, radarbalinews.com – Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman: Kolaborasi Seni Antarumat Beragama untuk Membangun Harmoni Sosial di Bali sukses digelar di Gedung Kriya Monumental GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, Dalung, Kuta Utara, Badung, Minggu (19/7/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan tokoh lintas agama, seniman, akademisi, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam semangat memperkuat toleransi, persaudaraan, serta harmoni sosial melalui kebudayaan.

Sebagai konseptor Dr. Sn. I Ketut Ardana, S.Sn., M.Sn. yang juga merupakan penanggung jawab Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman sekaligus penerima Fasilitas Hibah Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP RI, pergelaran ini berhasil diselenggarakan berkat sinergi para seniman, lembaga, komunitas, tokoh lintas agama, dan seluruh pihak yang bersama-sama menghadirkan ruang seni sebagai jembatan persaudaraan serta penguat harmoni sosial di Bali.
Rangkaian acara diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin Pdt. Em. Ketut Philipus Aryawijaya, S.Th., M.A., dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, Pdt. Dr. Made Narawati, S.Th., M.Si. menyampaikan Renungan Perdamaian Menuju Bali Harmoni dengan sabda Tuhan dari Ibrani 13:1, “Peliharalah kasih persaudaraan.” Dalam renungannya, ia menegaskan bahwa setiap orang merupakan agen perdamaian yang memiliki tanggung jawab mewujudkan harmoni di tengah keberagaman. Menurutnya, seni memiliki peran strategis sebagai media untuk menumbuhkan kasih, mempererat persaudaraan, serta membangun kehidupan yang damai.
Pergelaran tersebut turut dihadiri para rohaniawan lintas agama, Ketua Widya Sabha Kabupaten Badung Drs. Bagus Sapta Tenaya, M.M., Ak., perwakilan Yayasan Divya Pradana Bhakti Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB), I Putu Precious Ananta Yohanes, S.Ds., M.M. bersama Made Rai Abdi Nurani selaku putra dan istri dari almarhum Pdt. Dr. I Nyoman Yohanes, M.Th., M.Pd., pencipta ratusan lagu rohani bernuansa budaya Bali, pimpinan Sanggar Seni Ganeswara Ida Bagus Alit Indra Putra, S.Sn., dosen ISI Bali Saptono, S.Sn., M.Si., para pengurus kategorial GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, pengurus PWDK Jemaat Efrata Buduk, para sesepuh, para seniman pendukung pergelaran, insan media, serta ratusan jemaat dan tamu undangan yang memenuhi Gedung GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal.

Dalam laporannya, Ketua Penyelenggara I Nengah Rata Artana, S.Sn., M.Sn., M.M. menyampaikan bahwa pergelaran tersebut merupakan hasil dari proses panjang membangun komunikasi lintas iman melalui seni dan budaya.
“Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang perjumpaan untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama. Seluruh prosesnya diawali dari dialog, workshop, hingga latihan bersama sehingga lahirlah kolaborasi yang mengedepankan nilai toleransi, gotong royong, dan kebudayaan sebagai perekat bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum malam pementasan panitia telah menggelar diskusi dan komunikasi lintas iman bersama para seniman sejak Mei 2026, dilanjutkan survei lokasi, koordinasi dengan GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, serta latihan intensif sejak 12 Juli hingga gladi bersih pada 18 Juli 2026. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pihak, khususnya GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal yang membuka ruang bagi terselenggaranya pergelaran seni lintas agama.
Dalam sambutannya, Ketua Majelis GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, Dr. Drs. Putu Parwata, M.Kn., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan momentum yang sangat baik karena menghadirkan kolaborasi lintas iman yang masih jarang terjadi.
Ia mengatakan kehidupan yang harmonis dan damai harus terus dirawat melalui semangat persaudaraan dan kebersamaan. Seni dan budaya perlu dikembangkan secara berkelanjutan karena mampu memperkuat kehidupan sosial, membangun jembatan kasih persaudaraan, serta memperkokoh semangat persatuan. Ia juga berharap dukungan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dapat terus memberikan energi bagi para seniman untuk menghadirkan karya-karya yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Memasuki sesi Presentasi Karya Seni, Dr. Sn. I Ketut Ardana, S.Sn., M.Sn. menjelaskan bahwa Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman lahir dari keyakinan bahwa seni merupakan bahasa universal yang mampu melampaui perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang sosial.
Menurutnya, filosofi gamelan Bali mengajarkan bahwa setiap instrumen memiliki karakter dan fungsi yang berbeda, namun justru menghasilkan harmoni ketika dimainkan bersama. Nilai tersebut menjadi cerminan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, di mana perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
“Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman membuktikan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat disatukan melalui seni, dialog, dan semangat persaudaraan untuk membangun harmoni sosial,” tegas Dr. I Ketut Ardana.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pergelaran ini bukan sekadar menghadirkan hiburan, melainkan mengajak masyarakat memahami dan menghargai keberagaman sebagai kekayaan bersama. Melalui seni, masyarakat diajak memperkuat rasa persaudaraan, saling menghormati, serta menjadikan kebudayaan sebagai media pemersatu.
Dr. I Ketut Ardana juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Majelis dan Jemaat GKPB Betlehem Untal-Untal, Sanggar Seni Ganeswara, Komunitas Generasi Muda Cinta Seni dan Budaya (Genta Nusantara), seluruh seniman, relawan, dan semua pihak yang telah bekerja sama sehingga Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman dapat terselenggara dengan sukses.
“Semoga kegiatan seperti ini terus diberdayakan sehingga memiliki energi yang kuat dalam mempererat persaudaraan, menjaga harmoni, dan memperkuat kebudayaan Indonesia, khususnya di Bali,” tutupnya.
Sebagai puncak acara, para tamu undangan disuguhkan empat komposisi Gamelan Bali Semar Pagulingan karya Dr. Sn. I Ketut Ardana, S.Sn., M.Sn. yang dipersembahkan secara kolaboratif oleh Sanggar Seni Ganeswara, GKPB Jemaat Betlehem Untal-Untal, dan Komunitas Generasi Muda Cinta Seni dan Budaya (Genta Nusantara). Pertunjukan diawali dengan Bali Dwipa, sebuah komposisi yang merefleksikan Bali sebagai pulau yang dibangun di atas nilai-nilai kebudayaan, toleransi, dan kebersamaan, sekaligus mengajak masyarakat untuk terus merawat harmoni sebagai warisan bagi generasi mendatang. Penampilan kemudian dilanjutkan dengan Kipas Menari yang ditarikan oleh Viora, dikoreografi oleh Sefi Indah Prawasari, S.Sn., dan diiringi Gamelan Bali Semar Pagulingan. Karya tersebut menggambarkan keindahan gerak yang lahir dari keseimbangan, sekaligus menyampaikan pesan bahwa keharmonisan tercipta ketika setiap individu saling menghargai, melengkapi, dan menguatkan dalam keberagaman. Selanjutnya, Carang Anggur, ciptaan almarhum Pdt. Dr. I Nyoman Yohanes, M.Th., M.Pd., menghadirkan dimensi spiritual yang mengingatkan bahwa nilai kasih, kedamaian, dan penghormatan kepada sesama merupakan fondasi dalam mempererat persaudaraan lintas iman. Pertunjukan ditutup dengan Nada-Nada Semesta, sebuah komposisi yang merepresentasikan harmoni alam semesta, di mana keberagaman berpadu menjadi satu kesatuan yang indah sebagai cerminan kehidupan masyarakat yang rukun. Seluruh penampilan mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Pergelaran bertajuk “Pergelaran Gamelan Bali Lintas Iman: Kolaborasi Seni Antarumat Beragama untuk Membangun Harmoni Sosial di Bali” ini menjadi bukti bahwa seni budaya mampu menjadi media dialog lintas iman yang efektif. Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak kolaborasi seni lintas agama di berbagai daerah, sekaligus memperkuat persaudaraan, merawat toleransi, dan menjaga harmoni sosial melalui kebudayaan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh seniman, tokoh lintas agama, tamu undangan, panitia, relawan, serta para pendukung pergelaran sebagai simbol kebersamaan dan komitmen bersama untuk terus merawat toleransi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga harmoni sosial melalui seni dan kebudayaan di Bali maupun Indonesia.
Red: Irene
No Comments