Tabanan, radarbalinews.com – Selama tujuh tahun sejak longsor pada 2019, jembatan yang sekaligus menjadi jalur irigasi di kawasan Lanskap Budaya Subak Jatiluwih belum mendapat penanganan permanen. Akibatnya, puluhan hektare lahan pertanian yang dikelola Subak Kedamean dan Subak Uma Duwi terancam mengalami gangguan pasokan air, sementara aktivitas petani dan keselamatan pengguna jalur trekking turut terdampak.
Berdasarkan pantauan di lokasi, distribusi air hingga kini masih mengandalkan pipa sementara yang ditopang bambu. Infrastruktur yang putus tersebut merupakan bagian dari jaringan yang menghubungkan empat subak di kawasan Jatiluwih, sehingga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sistem irigasi di lanskap yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Seorang petani mengatakan, sejak jembatan putus mereka harus menempuh jalur yang lebih jauh untuk mencapai lahan dan mengangkut hasil panen sehingga waktu serta biaya operasional meningkat.
“Jalur ini merupakan rute terdekat menuju sawah. Setelah putus, kami harus memutar untuk mengelola lahan dan membawa hasil panen,” ujarnya.
Sementara itu, pengelola kawasan menjelaskan bahwa penggunaan pipa darurat hanya menjadi solusi sementara dan belum mampu menjamin keberlangsungan distribusi air. Menurutnya, keberadaan infrastruktur yang memadai merupakan bagian penting dalam menjaga sistem subak yang menjadi penopang pertanian sekaligus daya tarik wisata Jatiluwih.
“Kami berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian sehingga pembangunan infrastruktur yang permanen segera direalisasikan. Dengan demikian, distribusi air tetap terjaga, aktivitas petani kembali lancar, dan kelestarian Lanskap Budaya Subak Jatiluwih sebagai warisan dunia dapat terus dipertahankan,” katanya.
Selain berdampak pada sektor pertanian, kerusakan tersebut juga memengaruhi keamanan jalur trekking yang menjadi salah satu daya tarik wisata Jatiluwih. Saat musim hujan, lintasan menjadi licin dan belum dilengkapi pengaman sehingga berpotensi membahayakan petani maupun wisatawan.
Masyarakat berharap persoalan yang telah berlangsung sekitar tujuh tahun ini segera mendapat perhatian dan penanganan dari pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan. Penanganan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sistem irigasi subak, mendukung produktivitas pertanian, sekaligus mempertahankan kelestarian Lanskap Budaya Subak Jatiluwih sebagai Warisan Dunia UNESCO bagi generasi mendatang.
Red: Irene






