Klungkung, radarbalinews.com – Mengoptimalkan potensi wisata, menjaga warisan budaya leluhur, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi bagian dari visi Cokorda Gde Agung Mahaputra, Calon Perbekel Desa Nyalian Nomor Urut 3. Sebagai Penasehat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nyalian, ia mendorong kolaborasi lintas sektor agar kekayaan alam, wisata spiritual, seni, dan budaya desa dapat berkembang menjadi daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi warga.

Komitmen tersebut sejalan dengan kegiatan field study mahasiswa Program Studi Manajemen Perhotelan (Sarjana Terapan), Fakultas Bisnis dan Pariwisata, Universitas Dhyana Pura (Undhira), pada 22–23 Oktober 2026. Diselenggarakan Pokdarwis Desa Wisata Nyalian, kegiatan ini mengangkat program Mitigasi Kebencanaan dan Nyalian Bersih Plastik 2026 berbasis Sapta Karya Pariwisata Indonesia.
Cokorda Gde Agung Mahaputra mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta yang telah hadir dan berpartisipasi. Menurutnya, kegiatan serupa telah dilakukan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai kebersihan, kepedulian lingkungan, dan pelestarian budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, dengan adanya kegiatan seperti ini, Desa Nyalian semakin dikenal luas, baik di tingkat lokal maupun mancanegara. Diperlukan kesadaran dan kerja sama bersama untuk mempromosikan potensi yang dimiliki desa,” ujarnya.

Ia menilai, pengembangan desa wisata membutuhkan lebih dari sekadar promosi. Penguatan kelembagaan Pokdarwis, keterlibatan masyarakat, serta penyediaan fasilitas pendukung seperti homestay juga diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Dengan demikian, wisatawan berpeluang tinggal lebih lama, mengenal kehidupan masyarakat setempat, dan turut menggerakkan usaha lokal.
Desa Nyalian resmi menjadi desa wisata pada 12 September 2026. Penetapan ini menjadi momentum untuk mengembangkan berbagai potensi, mulai dari panorama alam, wisata penglukatan, wisata religi, hingga kesenian tradisional warisan leluhur. Pengelolaannya diharapkan mampu memperluas daya tarik destinasi tanpa mengesampingkan adat, budaya, dan kearifan lokal.
Dalam pencalonannya sebagai Perbekel Desa Nyalian, Cokorda Gde Agung Mahaputra mengusung visi, “Membangun Desa dan Melayani Bersama dengan Hati, Menjaga Adat dan Budaya Leluhur Berlandaskan Tri Hita Karana Demi Kesejahteraan Bersama.”
Visi tersebut menempatkan pelayanan publik, pelestarian budaya, pembangunan infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi sebagai bagian yang saling berkaitan. Berlandaskan Tri Hita Karana, pembangunan diarahkan untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Untuk mewujudkannya, ia menetapkan lima misi, yakni mewujudkan pelayanan publik yang humanis, transparan, dan akuntabel; memperkuat adat, budaya, dan kearifan lokal Desa Nyalian; membangun infrastruktur yang merata dan berkelanjutan; meningkatkan kesejahteraan serta pemberdayaan masyarakat; dan mewujudkan desa yang mandiri, aman, serta harmonis.
Dalam sektor pariwisata, arah pembangunan tersebut dapat diwujudkan melalui pemberdayaan UMKM, pengembangan wisata berbasis alam dan spiritual, serta pelestarian kesenian tradisional. Keterlibatan warga dalam penyediaan produk lokal, jasa wisata, dan akomodasi diharapkan membuka peluang usaha yang lebih luas sehingga manfaat pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di sisi lain, kesiapsiagaan menghadapi bencana dan pengurangan sampah plastik menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan destinasi. Kebersihan lingkungan dan keselamatan pengunjung perlu menjadi bagian dari tata kelola pariwisata, bukan hanya agenda saat kegiatan berlangsung.
Karena itu, sinergi antara Pokdarwis, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, warga, dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat. Dukungan akademisi melalui pembelajaran lapangan dapat memberikan perspektif dan masukan bagi pengelolaan destinasi, sedangkan partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan program.
Kegiatan yang turut didampingi I Nengah Rata Artana dan I Ketut Rudia ini menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan Desa Wisata Nyalian. Dengan mengusung semangat “Pariwisata untuk Kesejahteraan”, pengembangan desa diharapkan tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga menjaga identitas budaya, merawat lingkungan, dan memperkuat perekonomian masyarakat.
(Irene)
No Comments