Klungkung, radarbalinews.com – Kebersihan lingkungan bukan sekadar urusan sampah, melainkan fondasi penting bagi keberlanjutan desa wisata. Semangat inilah yang diusung Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, melalui gerakan Nyalian Resik Plastik 2026 pada Jumat (23/10/2026). Aksi ini menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kepedulian lingkungan sekaligus membangun kesadaran mitigasi bencana demi mendukung pengembangan destinasi wisata yang berkualitas.

Gerakan tersebut merupakan bagian dari rangkaian field study mahasiswa Program Studi Manajemen Perhotelan Program Sarjana Terapan, Fakultas Bisnis dan Pariwisata, Universitas Dhyana Pura (Undhira), pada 22–23 Oktober 2026. Selain aksi bersih plastik, rangkaian kegiatan juga mencakup pembelajaran mitigasi bencana dengan mengacu pada nilai-nilai Sapta Karya Pariwisata Indonesia.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nyalian, Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si., mengatakan kegiatan ini menjadi momentum awal bagi kepengurusan baru untuk membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dalam memajukan desa wisata. Dukungan tokoh masyarakat, termasuk penasihat Pokdarwis, Cokorda Gde Agung Mahaputra, menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi untuk menggali dan mengembangkan potensi Desa Nyalian.

“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam kegiatan ini. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk memajukan Desa Wisata Nyalian,” ujar Ida Bagus Purwa Sidemen.

Keterlibatan unsur masyarakat, pengelola desa wisata, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu membangun fondasi pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga pelestarian lingkungan, budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Dosen pengabdi dan pendamping, I Nengah Rata Artana, S.Sn., M.Sn., M.M., I Ketut Rudia, S.E., M.M., dan I Ketut Sirna, S.H., M.M., turut mendukung pelaksanaan kegiatan yang menghubungkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan destinasi wisata dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.
I Nengah Rata Artana menjelaskan bahwa kegiatan pada 22 Oktober berfokus pada field study mitigasi bencana, sedangkan aksi bersih plastik pada 23 Oktober menjadi penerapan langsung kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat memicu persoalan lingkungan hingga bencana, seperti banjir akibat saluran air tersumbat sampah plastik. Karena itu, penanganan sampah perlu menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Kalau kita salah mengelola sampah atau sampah tidak tertangani, tentu bisa menjadi bencana. Misalnya, banjir karena saluran tersumbat sampah plastik. Karena itu, menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari mitigasi bencana,” jelas I Nengah Artana.
Ia menambahkan, Desa Wisata Nyalian memiliki potensi wisata berbasis alam, budaya, dan kehidupan masyarakat yang perlu dijaga melalui pengelolaan lingkungan yang baik. Kualitas lingkungan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan daya tarik destinasi sekaligus memberikan pengalaman wisata yang berkualitas.
“Sebagai destinasi wisata berbasis alam, kualitas lingkungan harus menjadi perhatian. Gerakan ini merupakan langkah moral untuk menjaga lingkungan sekaligus mempromosikan potensi alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Desa Nyalian,” ungkap I Nengah Artana.

Upaya pengembangan desa wisata melalui Sapta Karya Pariwisata Indonesia sebelumnya telah diperkuat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada 27 September 2026. Kegiatan tersebut berupa sosialisasi nilai-nilai Sapta Karya bersama pengelola desa wisata dan unsur masyarakat, termasuk pihak subak yang mendukung pengembangan Desa Wisata Nyalian.
Sapta Karya Pariwisata Indonesia mencakup tujuh prinsip, yakni pariwisata berbudaya, bermufakat, berintegritas, bergotong royong, berkeadilan, berkualitas, dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip ini menekankan pelestarian budaya, musyawarah dengan pemangku kepentingan, tata kelola yang transparan, keterlibatan masyarakat, serta pembagian manfaat pariwisata secara proporsional.
Selain menjaga lingkungan dan budaya, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perkembangan industri pariwisata. Pengembangan destinasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

“Potensi Desa Nyalian sudah luar biasa. Yang diperlukan adalah komitmen dan tindakan nyata dari Pokdarwis, pengurus desa wisata, serta dukungan masyarakat untuk mengembangkan potensi tersebut,” kata I Nengah Artana.
Keberhasilan Nyalian Resik Plastik 2026 didukung kerja sama panitia, Pokdarwis, mahasiswa dan dosen Undhira, serta sejumlah pihak, termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, unsur pelayanan kesehatan, dan Babinsa. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun kesadaran lingkungan dan memperkuat fondasi Desa Wisata Nyalian sebagai destinasi yang berdaya saing.
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Ketua Panitia Cokorda Gede Darma Putra Pemayun, didampingi Wakil Ketua I Nengah Kurniawan, S.E., M.M. Dukungan administrasi ditangani Sekretaris I, Cista Satya dan Sekretaris II, I Wayan Dwipayana, sedangkan pengelolaan keuangan dilaksanakan Bendahara I, I Nengah Kariyanta dan Bendahara II, Anak Agung Gede Wisnu Adhimatra.
(Irene)
No Comments